Anggaran Rp2,9 Miliar untuk UCLG ASPAC 2026 di Kendari: Investasi Strategis atau Sekadar Seremonial?
KENDARI, REALSUTRA.COM – Kota Kendari bersiap menjadi sorotan internasional. Ibu kota Provinsi Sulawesi Tenggara ini resmi terpilih sebagai tuan rumah gelaran bergengsi UCLG ASPAC Executive Bureau Meeting and Asia Pacific Forum 2026. Namun, di balik kemegahan rencana tersebut, sorotan tajam tertuju pada alokasi anggaran sebesar Rp2,9 miliar.
Angka yang cukup fantastis untuk satu rangkaian acara ini memicu perdebatan di tengah masyarakat. Di satu sisi, acara ini adalah pintu gerbang Kendari menuju panggung dunia; di sisi lain, persoalan dasar kota masih menjadi rapor merah yang belum tuntas.
Megah di Panggung, Kontras di Lapangan
Delegasi dari berbagai negara di Asia-Pasifik dipastikan akan menginjakkan kaki di “Kota Bertaqwa”. Namun, narasi kemegahan ini terasa kontras dengan realitas yang dihadapi warga sehari-hari.
Masalah pengelolaan sampah yang belum optimal, infrastruktur jalan yang belum merata, hingga layanan publik yang masih sering dikeluhkan, menjadi bumbu pahit di tengah persiapan penyambutan tamu mancanegara.
Pengamat: Efisiensi Harus Jadi Prioritas
Menanggapi hal ini, sejumlah pengamat kebijakan publik menilai bahwa Pemerintah Kota Kendari harus mampu membuktikan bahwa anggaran miliaran rupiah tersebut bukanlah pemborosan.
”Jangan sampai event internasional mengorbankan kebutuhan dasar masyarakat. Efisiensi anggaran harus menjadi prioritas utama. Publik ingin melihat apakah ini benar-benar investasi jangka panjang atau hanya kegiatan seremonial berbiaya mahal,” ujar salah satu pengamat anggaran daerah.
Investasi atau Beban?
Secara teoritis, forum internasional seperti UCLG ASPAC berpotensi membawa dampak positif bagi city branding dan membuka peluang investasi. Namun, tanpa rencana pasca-event yang konkret, anggaran Rp2,9 miliar tersebut berisiko hanya menjadi beban APBD tanpa dampak sistemik bagi perbaikan kualitas hidup warga Kendari.
Kini, publik menanti. Bukan sekadar menanti suksesnya acara dan senyum para delegasi, melainkan bukti nyata: apakah setelah forum ini berakhir, sampah di sudut-sudut kota akan tertangani lebih baik? Apakah infrastruktur akan lebih mulus?
Jawaban dari pertanyaan “Layak atau Tidak?” tidak akan ditemukan di atas panggung pidato, melainkan pada perubahan nyata yang dirasakan masyarakat Kendari setelah tamu-tamu internasional tersebut pulang ke negaranya.Editor: Tim Redaksi Realsutra






